Berteman

1001662_333088566824772_1484312767_n

Advertisements

Hadith ” Memilih Teman Duduk “

 

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

aku

Takhrij Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari  dalam ash-Shahih (no. 2101 dan 5534), Muslim t (8/37—38), Ibnu Hibban rahimahullah dalam Shahih-nya, al-Baihaqi rahimahullahdalam Syu’abul Iman, dan Ahmad rahimahullah (4/404—405), semua melalui jalan Abu Burdahrahimahullah, dari Abu Musa rahimahullah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan jalan-jalan lain yang dapat dirujuk dalam kitab beliau, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits no. 3214.

Makna Hadits

Ada perkara penting yang kurang mendapat perhatian. Mengabaikan hal ini bisa menjadi bahaya laten dan bom waktu bagi yang tidak memedulikannya.

Perkara itu adalah memilih teman duduk. Wajib bagi kita memilih teman-teman yang baik, yang akan membantu kita dalam ketaatan. Demikian pula, wajib bagi kita menjauhkan diri dari orang-orang fasik, ahlul bid’ah, para pemilik pemikiran-pemikiran menyimpang, dan pengikut hawa nafsu yang akan menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ini faedah penting yang tersurat dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari rahimahullah. Ketika menyebutkan hadits ini, al-Baihaqi t memberikan judul bab “Menjauhkan Diri dari Kaum yang Fasik, Ahlul Bid’ah, dan Siapa Saja yang Tidak Membantumu untuk Berbuat Taat kepada AllahSubhanahu wata’ala.”

Demikianlah yang semestinya kita tempuh, memilih sahabat yang baik sebagaimana diwasiatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sahabat sangat mempengaruhi orang yang diiringinya, dan tabiat teman dekat benar- benar menguasai tabiat temannya. Oleh karena itu, semakna dengan hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, banyak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang kita berdekatan dengan orang-orang kafir dan tinggal bersama mereka.

Banyak kasus orang tua dikagetkan ketika dahulu sang anak demikian santun, beradab kepada orang tua, lembut dalam tutur kata, namun selepas pendidikannya di bangku kuliah, sang anak lantas durhaka kepada keduanya. Kasar, kaku, dan suka menyakiti. Jangankan tinggal serumah untuk berbuat ihsan kepada keduanya di saat kepayahan keduanya, ucapan terima kasih pun berat untuk terucap. Bahkan, di antara yang pernah terjadi, sang anak begitu mudah memberi vonis kafir kepada keduanya karena tidak mau ikut ideologinya. Lantas ia pergi meninggalkan keduanya dengan dalih berjihad dengan jalan yang dia anggap mengantarkan ke surga, padahal jalan yang ia tempuh jauh dari bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita dikejutkan beberapa waktu lalu dengan peristiwa-peristiwa pengeboman, termasuk di beberapa tempat wilayah Kerajaan Arab Saudi. Penulis mendapat kisah dari sebagian da’i yang mendapat tugas dari pemerintah Arab Saudi untuk memberikan pengarahan di penjara-penjara kepada para pelaku pengeboman. Sungguh, pelaku-pelaku tersebut bukan orang idiot. Mereka cerdas otaknya, bahkan mahasiswa perguruan tinggi, di samping punya semangat keislaman.

Hanya saja, mereka tidak belajar di bawah bimbingan tangan para ulama. Di antara mereka ada yang belajar dari dunia maya, mengunjungi situs-situs Khawarij, dan berkawan dengan orang-orang berpemahaman takfir. Sungguh, di antara mereka ada yang memiliki seorang ibu yang sudah renta di rumahnya, ditinggal telantar untuk berjihad—menurut anggapan mereka— dengan melakukan peledakan di negeri Islam. Sangat menyedihkan. Tampaknya, setiap kita wajib mulai berbenah ketika mengingat sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk itu seperti penjual misik dan pandai besi.”

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan timbangan dalam hal memilih teman. Kita diingatkan tentang timbangan tersebut, sebuah neraca yang sudah mulaipudar di zaman ini.

Kisah Thalq bin Habib rahimahullah

Nama ini tidak asing bagi para penuntut ilmu. Seorang pemuka tabi’in, Thalq bin Habib al-‘Anazi al-Bashri. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh al- Imam Muslim dalam ash-Shahih, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya rahimahumullah. Tahukah Anda bahwa dahulu beliau terpengaruh dengan mazhab Khawarij yang mereka terjatuh pada pemahaman mengafirkan para pelaku dosa besar? Mereka berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar, seperti orang yang bunuh diri, kekal di dalam neraka. Mereka pun tidak meyakini adanya syafaat untuk pelaku dosa besar sehingga dikeluarkan dari neraka.

Dalam sebuah perjalanan, ketika Thalq bin Habib bersama kawan-kawan sepemahaman melakukan perjalanan haji atau umrah, Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan Thalq dari paham takfir tatkala bermajelis dengan sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, seorang ulama dari generasi sahabat, generasi terbaik umat ini.

Kisah beliau diriwayatkan oleh al – Imam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad. Dalam kisah tersebut Thalq bin Habib rahimahullah berkata,

كُنْتُ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ تَكْذِيبًا بِالشَّفَاعَةِ حَتَّى لَقِيتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ كُلَّ آيَةٍ ذَكَرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خُلُودُ أَهْلِ النَّارِ، فَقَالَ :  يَا طَلْقُ، أَتُرَاكَ أَقْرَأَ لِكِتَابِ اللهِ مِنِّي وَأَعْلَمَ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ, فَاتُّضِعْتُ لَهُ؟ فَقُلْتُ: لَا،  وَاللهِ، بَلْ أَنْتَ أَقْرَأُ لِكِتَابِ اللهِ مِنِّي وَأَعْلَمُ بِسُنَّتِهِ مِنِّي. قَالَ: فَإِنَّ الَّذِي قَرَأْتَ أَهْلُهَا هُمُ الْمُشْرِكُونَ، وَلَكِنْ قَوْمٌ أَصَابُوا ذُنُوبًا فَعُذِّبُوا بِهَا ثُمَّ أُخْرِجُوا، صُمَّتَا-وَأَهْوَى بِيَدَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ-إِنْ لَمْ أَكُنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ يَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ؛ وَنَحْنُ نَقْرَأُ مَا تَقْرَأُ

Dahulu aku termasuk orang yang paling keras pengingkarannya terhadap adanya syafaat (yakni syafaat bagi pelaku dosa besar untuk keluar dari neraka, -pen.), hingga (Allah Subhanahu wata’ala mudahkan) aku berjumpa dengan sahabat Jabir bin Abdillah z. Di hadapannya, aku bacakan semua ayat yang Allah Subhanahu wata’ala firmankan dalam al-Qur’an tentang kekekalan penghuni neraka (yakni Thalq memahami mereka yang sudah masuk neraka tidak mungkin mendapat syafaat untuk keluar termasuk pelaku dosa besar, -pen.). Seusai membacakan ayat-ayat tersebut Jabir berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?” Thalq menjawab, “Tidak demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada aku.” Jabir berkata, “Wahai Thalq, sesungguhnya semua ayat yang engkau baca tentang (kekekalan ahli neraka) mereka adalah musyrikin (orang-orang yang mati dalam keadaan musyrik.) Akan tetapi (yang mendapatkan syafaat adalah) kaum yang melakukan dosa besar (dari kalangan muslimin) yang diazab di neraka, kemudian mereka dikeluarkan darinya.” Jabir lalu menunjuk kepada dua telinganya dan berkata, “Sungguh tuli kedua telinga ini jika aku tidak mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sabda beliau, ‘Mereka (pelaku dosa besar) keluar dari neraka (setelah diazab),’ sedangkan kita membaca ayat-ayat al-Qur’an.”

Lihatlah manfaat besar ketika seorang duduk bersama ulama, duduk dengan seorang yang baik. Membuahkan faedah besar yang dipetik seumur hidup, bahkan sesudahnya. Thalq bin Habib rahimahullah diselamatkan dari pemahaman yang salah tentang pelaku dosa besar.

Faedah yang Sayang Jika Dilewatkan

Dalam kisah Thalq bin Habib, ada sebuah faedah yang tidak ingin kita lewatkan. Faedah yang terulang, namun perlu selalu diingatkan, yaitu wajibnya kembali kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal memahami al-Kitab dan as- Sunnah. Faedah itu ada dalam pertanyaan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan jawaban Thalq bin Habibrahimahullah.

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?” Thalq menjawab, “Tidak, demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam.”

Percakapan yang sangat indah. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kepada Thalq sebelum beliau menjelaskan syubhat (kerancuan) berpikir yang ada pada diri Thalq. Beliau ingatkan bahwa para sahabat adalah orang yang paling mengerti al-Kitab dan as-Sunnah. Ini pula yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mengabarkan akan adanya perselisihan dan perpecahan umat di akhir zaman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah al-Khulafaar-Rasyidin, serta memerintah mereka untuk mengikuti jalan sahabat, generasi terbaik yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Ketika Thalq menyadari hal itu dan mau mendengar perkataan Jabir, selamatlah beliau dari pemikiran Khawarij.1

Meninggalkan Majelis Ahlul Bid’ah

Di antara pokok penting yangm terkandung dari hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu— dan ini termasuk pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah—adalah wajibnya meninggalkan ahlul bid’ah dan majelis mereka. Pokok ini ditunjukkan oleh banyak dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

 “Dan apabila kamu melihat orangorang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah (wafat 1250 H) berkata dalam tafsirnya, Fathul Qadir, “Dalam ayat ini ada nasihat (peringatan) yang agung bagi orang yang masih saja membolehkan duduk bersama ahli bid’ah yang biasa mengubah Kalam Allah, mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak. Sungguh jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak mampu mengubah keadaan mereka, ia harus meninggalkan majelis mereka. Hal itu mudah baginya dan tidak sulit. Bisa jadi, para ahli bid’ah memanfaatkan hadirnya seseorang di majelis mereka, meskipun ia dapat terhindar dari syubhat yang mereka lontarkan, tetapi mereka dapat mengaburkannya kepada orang-orang awam.

Jadi, hadirnya seseorang dalam majelis ahli bid’ah adalah kerusakan yang lebih besar daripada sekadar kerusakan yang berupa mendengarkan kemungkaran. Kami telah melihat di majelis-majelis terlaknat ini—yang banyak sekali jumlahnya—dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebatilan semampu kami, dan mencapai puncak kemampuan kami.

Barang siapa mengetahui syariat yang suci ini dengan sebenar-benarnya, dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala bisa jadi akan melakukan hal-hal yang diharamkan. Lebih-lebih lagi bagi orang yang belum mapan  ilmunya tentang al-Qur’an dan as- Sunnah, sangat mungkin terpengaruhdengan kedustaan-kedustaan mereka  berupa kebatilan yang sangat jelas  lalu kebatilan tersebut akan tertanam di dalam hatinya sehingga sangat sulit mencari penyembuh dan pengobatannya, meskipun ia telah berusaha sepanjang hidupnya. Ia akan menemui Allah l dengan kebatilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu adalah sebesar-besar kebatilan dan sebesar-besar kemungkaran.” (Fathul Qadir)

Karena pentingnya pokok ini, menjauhkan diri dari ahlul bid’ah dan majelis-majelis mereka, para ulama memasukkan masalah ini dalam pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikian pula ulama ahlul hadits mencantumkan bab-bab khusus terkait pokok yang agung ini.

1. Al-Imam Abu Dawud as-Sijistani rahimahullah (wafat 275 H), membuat sebuah bab dalamSunan Abi Dawud (4/198) dengan judul “Mujanabatu Ahlil Ahwa’ wa Bughdhuhum” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu dan Membenci Mereka”).

2. Al-Imam Ibnu Baththah al-Akburi rahimahullah (wafat 387 H), dalam kitabnya al-Ibanah(2/429) mencantumkan sebuah bab berjudul “at-Tahdzir min Shuhbati Qaumin Yumridhunal Quluba wa Yufsidunal Imaan” (bab “Peringatan dan Ancaman dari Bergaul dengan Kaum yang Dapat Membuat Hati Menjadi Sakit dan Merusak Iman”).

3. Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah (wafat 458 H) dalam Kitabul I’tiqad membuat sebuah bab berjudul “an-Nahyu ‘an Mujalasati Ahlil Bida” (bab “Larangan Bermajelis dengan Ahlul Bid’ah”).

4. Al-Imam al-Baghawi rahimahullah (wafat 516 H) dalam Syarhus Sunnah (1/219) menyebutkan bab “Mujanabah Ahlil Ahwa” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu”).

5. Al-Imam Al-Mundziri rahimahullah (wafat 656 H), dalam kitabnya at-Targhib wat Tarhib (3/378) membuat bab “at-Tarhib min Hubbil Asyrar wa Ahlil Bida” (“Ancaman Mencintai Orang- Orang yang Melakukan Kejelekan dan Bid’ah”).

6. Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 676 H) dalam kitabnya, al-Adzkar, menyebutkan bab “at-Tabarri min Ahlil Bid’ah wal Ma’ashi” (bab “Berlepas Diri dari Ahlul Bida’ dan Pelaku Maksiat”). Hal yang semisal ini banyak kita jumpai dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Manusia dan Media

Ketika kita berbicara teman duduk, bukan manusia saja yang perlu diwaspadai. Termasuk media-media yang dahulu tidak terbayang akan menjadi teman dalam kesendirian. Sang anak bersendiri dengan ponsel di tangannya berselancar mengarungi samudera dunia maya. Teman duduk ini bisa menjadi bahaya laten muncul dan berkembangnya pemikiran-pemikiran sesat, paham takfir, dan semisalnya. Seandainya pemerintah atau pihak-pihak yang terkait mampu menutup situs-situs yang membahayakan akidah dan akhlak, tentu hal ini termasuk tugas dan kewajiban mereka. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaiki diri-diri kita, masyarakat kita, pemerintah kita, dan memberikan rezeki berupa teman duduk yang baik, yang membantu kita dalam hal ketaatan dan membantu kita menjauhi kejelekan.

Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajma’in

Sumber: http://asysyariah.com/hadits-memilih-teman-duduk.html