Fatwa Seputar Keguguran

Fatwa Seputar Keguguran: Apakah Bayi Yang Lahir Dalam Keadaan Meninggal Perlu Dimandikan, Dikafani Dan Disholatkan?

Oleh: Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahulloh

keguguran

 Pertanyaan:

Seorang bayi perempuan terlahir dalam keadaan meninggal pada usia kehamilan sembilan bulan, lalu ibunya dan ibu suaminya mengambilnya dan menguburkannya tanpa memandikannya dan tanpa mengkafaninya. Apakah mereka berdua berdosa dalam hal ini?

Jawaban:

Ya, mereka berdua berdosa karena mereka telah meninggalkan perkara yang wajib, yaitu memandikan, mengkafankan dan menyolatkan bayi yang gugur ini. Dan bayi yang gugur jika sudah mencapai usia empat bulan, yakni jika ibunya telah mengandungnya selama empat bulan lalu gugur, maka ia wajib dimandikan, dikafankan dan disholatkan serta dimakamkan di pekuburan kaum muslimin jika bayi tersebut muslim. Yang demikian karena setelah empat bulan bayi tersebut telah ditiupkan ruh padanya dan terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu, ia berkata:

حدثنا رسول صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق فقال إن أحدكم…. في بطن أمه أربعين يوماً نطفة ثم يكون علقة مثل وذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يبعث إليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربعة كلمات بكسب رزقه وأجله وعمله وشقي أم سعيد

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mengabarkan kepadaku –dan beliau adalah seseorang yang jujur lagi terpercaya- : “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian akan diutus kepadanya seorang malaikat yang akan meniupkan ruh padanya, dan dia diperintahkan untuk melakukan empat perkara yaitu : menulis rizqinya, ajalnya, amalnya serta apakah dia nanti sengsara ataukah bahagia.” [muttafaqun ‘alaihi]

Maka jika telah ditiupkan ruh padanya, jadilah ia hidup sebagaimana manusia, dan diperlakukan sebagaimana manusia yang hidup. Sehingga jika gugur dalam keadaan usianya telah sempurna empat bulan, maka ia wajib dimandikan, dikafani dan disholatkan serta dikubur di perkuburan kaum muslimin jika ia muslim.

***

Sumber: Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, diterjemahkan dari :http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4043.shtml. Artikel Ummushofi.wordpress.com

***

السؤال: هذه الرسالة من المستمعة من العراق خ. ن. ر. تقول لقد وضعت بنتاً ميتتاً في شهرها التاسع فقد أخذت والدتها ووالدة زوجها الطفلة ودفناها بدون غسل ولا تكفين فهل عليهما شيء في ذلك؟

الجواب

الشيخ: نعم عليهما في ذلك شيء لأنهما تركتا أمراً واجباً وهو تغسيل هذا السقط وتكفينه والصلاة عليه والسقط إذا بلغ أربعة أشهر يعني إذا كان حملاً له أربعة أشهر وسقط فأنه يجب أن يغسل ويكفن ويصلى عليه ويدفن مع المسلمين إذا كان مسلماً وذلك لأنه بعد أربعة أشهر تنفخ فيه الروح وهناك حديث لأبن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق فقال إن أحدكم…. في بطن أمه أربعين يوماً نطفة ثم يكون علقة مثل وذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يبعث إليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربعة كلمات بكسب رزقه وأجله وعمله وشقي أم سعيد وإذا نفخ فيه الروح صار حياً إنساناً له ما للإنسان الحي وعليه ما عليه فإذا سقط وقد تمت له الأربعة أشهر وجب أن يغسل ويكفن ويصلى عليه ويدفن مع المسلمين إذا كان مسلماً.

Sumber nukilan: http://ummushofi.wordpress.com/2012/08/24/fatwa-seputar-keguguran-apakah-bayi-yang-lahir-dalam-keadaan-meninggal-perlu-dimandikan-dikafani-dan-disholatkan/

Hadith ” Memilih Teman Duduk “

 

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

aku

Takhrij Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari  dalam ash-Shahih (no. 2101 dan 5534), Muslim t (8/37—38), Ibnu Hibban rahimahullah dalam Shahih-nya, al-Baihaqi rahimahullahdalam Syu’abul Iman, dan Ahmad rahimahullah (4/404—405), semua melalui jalan Abu Burdahrahimahullah, dari Abu Musa rahimahullah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan jalan-jalan lain yang dapat dirujuk dalam kitab beliau, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits no. 3214.

Makna Hadits

Ada perkara penting yang kurang mendapat perhatian. Mengabaikan hal ini bisa menjadi bahaya laten dan bom waktu bagi yang tidak memedulikannya.

Perkara itu adalah memilih teman duduk. Wajib bagi kita memilih teman-teman yang baik, yang akan membantu kita dalam ketaatan. Demikian pula, wajib bagi kita menjauhkan diri dari orang-orang fasik, ahlul bid’ah, para pemilik pemikiran-pemikiran menyimpang, dan pengikut hawa nafsu yang akan menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ini faedah penting yang tersurat dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari rahimahullah. Ketika menyebutkan hadits ini, al-Baihaqi t memberikan judul bab “Menjauhkan Diri dari Kaum yang Fasik, Ahlul Bid’ah, dan Siapa Saja yang Tidak Membantumu untuk Berbuat Taat kepada AllahSubhanahu wata’ala.”

Demikianlah yang semestinya kita tempuh, memilih sahabat yang baik sebagaimana diwasiatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sahabat sangat mempengaruhi orang yang diiringinya, dan tabiat teman dekat benar- benar menguasai tabiat temannya. Oleh karena itu, semakna dengan hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, banyak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang kita berdekatan dengan orang-orang kafir dan tinggal bersama mereka.

Banyak kasus orang tua dikagetkan ketika dahulu sang anak demikian santun, beradab kepada orang tua, lembut dalam tutur kata, namun selepas pendidikannya di bangku kuliah, sang anak lantas durhaka kepada keduanya. Kasar, kaku, dan suka menyakiti. Jangankan tinggal serumah untuk berbuat ihsan kepada keduanya di saat kepayahan keduanya, ucapan terima kasih pun berat untuk terucap. Bahkan, di antara yang pernah terjadi, sang anak begitu mudah memberi vonis kafir kepada keduanya karena tidak mau ikut ideologinya. Lantas ia pergi meninggalkan keduanya dengan dalih berjihad dengan jalan yang dia anggap mengantarkan ke surga, padahal jalan yang ia tempuh jauh dari bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita dikejutkan beberapa waktu lalu dengan peristiwa-peristiwa pengeboman, termasuk di beberapa tempat wilayah Kerajaan Arab Saudi. Penulis mendapat kisah dari sebagian da’i yang mendapat tugas dari pemerintah Arab Saudi untuk memberikan pengarahan di penjara-penjara kepada para pelaku pengeboman. Sungguh, pelaku-pelaku tersebut bukan orang idiot. Mereka cerdas otaknya, bahkan mahasiswa perguruan tinggi, di samping punya semangat keislaman.

Hanya saja, mereka tidak belajar di bawah bimbingan tangan para ulama. Di antara mereka ada yang belajar dari dunia maya, mengunjungi situs-situs Khawarij, dan berkawan dengan orang-orang berpemahaman takfir. Sungguh, di antara mereka ada yang memiliki seorang ibu yang sudah renta di rumahnya, ditinggal telantar untuk berjihad—menurut anggapan mereka— dengan melakukan peledakan di negeri Islam. Sangat menyedihkan. Tampaknya, setiap kita wajib mulai berbenah ketika mengingat sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk itu seperti penjual misik dan pandai besi.”

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan timbangan dalam hal memilih teman. Kita diingatkan tentang timbangan tersebut, sebuah neraca yang sudah mulaipudar di zaman ini.

Kisah Thalq bin Habib rahimahullah

Nama ini tidak asing bagi para penuntut ilmu. Seorang pemuka tabi’in, Thalq bin Habib al-‘Anazi al-Bashri. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh al- Imam Muslim dalam ash-Shahih, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya rahimahumullah. Tahukah Anda bahwa dahulu beliau terpengaruh dengan mazhab Khawarij yang mereka terjatuh pada pemahaman mengafirkan para pelaku dosa besar? Mereka berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar, seperti orang yang bunuh diri, kekal di dalam neraka. Mereka pun tidak meyakini adanya syafaat untuk pelaku dosa besar sehingga dikeluarkan dari neraka.

Dalam sebuah perjalanan, ketika Thalq bin Habib bersama kawan-kawan sepemahaman melakukan perjalanan haji atau umrah, Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan Thalq dari paham takfir tatkala bermajelis dengan sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, seorang ulama dari generasi sahabat, generasi terbaik umat ini.

Kisah beliau diriwayatkan oleh al – Imam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad. Dalam kisah tersebut Thalq bin Habib rahimahullah berkata,

كُنْتُ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ تَكْذِيبًا بِالشَّفَاعَةِ حَتَّى لَقِيتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ كُلَّ آيَةٍ ذَكَرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خُلُودُ أَهْلِ النَّارِ، فَقَالَ :  يَا طَلْقُ، أَتُرَاكَ أَقْرَأَ لِكِتَابِ اللهِ مِنِّي وَأَعْلَمَ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ, فَاتُّضِعْتُ لَهُ؟ فَقُلْتُ: لَا،  وَاللهِ، بَلْ أَنْتَ أَقْرَأُ لِكِتَابِ اللهِ مِنِّي وَأَعْلَمُ بِسُنَّتِهِ مِنِّي. قَالَ: فَإِنَّ الَّذِي قَرَأْتَ أَهْلُهَا هُمُ الْمُشْرِكُونَ، وَلَكِنْ قَوْمٌ أَصَابُوا ذُنُوبًا فَعُذِّبُوا بِهَا ثُمَّ أُخْرِجُوا، صُمَّتَا-وَأَهْوَى بِيَدَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ-إِنْ لَمْ أَكُنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ يَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ؛ وَنَحْنُ نَقْرَأُ مَا تَقْرَأُ

Dahulu aku termasuk orang yang paling keras pengingkarannya terhadap adanya syafaat (yakni syafaat bagi pelaku dosa besar untuk keluar dari neraka, -pen.), hingga (Allah Subhanahu wata’ala mudahkan) aku berjumpa dengan sahabat Jabir bin Abdillah z. Di hadapannya, aku bacakan semua ayat yang Allah Subhanahu wata’ala firmankan dalam al-Qur’an tentang kekekalan penghuni neraka (yakni Thalq memahami mereka yang sudah masuk neraka tidak mungkin mendapat syafaat untuk keluar termasuk pelaku dosa besar, -pen.). Seusai membacakan ayat-ayat tersebut Jabir berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?” Thalq menjawab, “Tidak demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada aku.” Jabir berkata, “Wahai Thalq, sesungguhnya semua ayat yang engkau baca tentang (kekekalan ahli neraka) mereka adalah musyrikin (orang-orang yang mati dalam keadaan musyrik.) Akan tetapi (yang mendapatkan syafaat adalah) kaum yang melakukan dosa besar (dari kalangan muslimin) yang diazab di neraka, kemudian mereka dikeluarkan darinya.” Jabir lalu menunjuk kepada dua telinganya dan berkata, “Sungguh tuli kedua telinga ini jika aku tidak mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sabda beliau, ‘Mereka (pelaku dosa besar) keluar dari neraka (setelah diazab),’ sedangkan kita membaca ayat-ayat al-Qur’an.”

Lihatlah manfaat besar ketika seorang duduk bersama ulama, duduk dengan seorang yang baik. Membuahkan faedah besar yang dipetik seumur hidup, bahkan sesudahnya. Thalq bin Habib rahimahullah diselamatkan dari pemahaman yang salah tentang pelaku dosa besar.

Faedah yang Sayang Jika Dilewatkan

Dalam kisah Thalq bin Habib, ada sebuah faedah yang tidak ingin kita lewatkan. Faedah yang terulang, namun perlu selalu diingatkan, yaitu wajibnya kembali kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal memahami al-Kitab dan as- Sunnah. Faedah itu ada dalam pertanyaan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan jawaban Thalq bin Habibrahimahullah.

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?” Thalq menjawab, “Tidak, demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam.”

Percakapan yang sangat indah. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kepada Thalq sebelum beliau menjelaskan syubhat (kerancuan) berpikir yang ada pada diri Thalq. Beliau ingatkan bahwa para sahabat adalah orang yang paling mengerti al-Kitab dan as-Sunnah. Ini pula yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mengabarkan akan adanya perselisihan dan perpecahan umat di akhir zaman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah al-Khulafaar-Rasyidin, serta memerintah mereka untuk mengikuti jalan sahabat, generasi terbaik yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Ketika Thalq menyadari hal itu dan mau mendengar perkataan Jabir, selamatlah beliau dari pemikiran Khawarij.1

Meninggalkan Majelis Ahlul Bid’ah

Di antara pokok penting yangm terkandung dari hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu— dan ini termasuk pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah—adalah wajibnya meninggalkan ahlul bid’ah dan majelis mereka. Pokok ini ditunjukkan oleh banyak dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

 “Dan apabila kamu melihat orangorang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah (wafat 1250 H) berkata dalam tafsirnya, Fathul Qadir, “Dalam ayat ini ada nasihat (peringatan) yang agung bagi orang yang masih saja membolehkan duduk bersama ahli bid’ah yang biasa mengubah Kalam Allah, mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak. Sungguh jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak mampu mengubah keadaan mereka, ia harus meninggalkan majelis mereka. Hal itu mudah baginya dan tidak sulit. Bisa jadi, para ahli bid’ah memanfaatkan hadirnya seseorang di majelis mereka, meskipun ia dapat terhindar dari syubhat yang mereka lontarkan, tetapi mereka dapat mengaburkannya kepada orang-orang awam.

Jadi, hadirnya seseorang dalam majelis ahli bid’ah adalah kerusakan yang lebih besar daripada sekadar kerusakan yang berupa mendengarkan kemungkaran. Kami telah melihat di majelis-majelis terlaknat ini—yang banyak sekali jumlahnya—dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebatilan semampu kami, dan mencapai puncak kemampuan kami.

Barang siapa mengetahui syariat yang suci ini dengan sebenar-benarnya, dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala bisa jadi akan melakukan hal-hal yang diharamkan. Lebih-lebih lagi bagi orang yang belum mapan  ilmunya tentang al-Qur’an dan as- Sunnah, sangat mungkin terpengaruhdengan kedustaan-kedustaan mereka  berupa kebatilan yang sangat jelas  lalu kebatilan tersebut akan tertanam di dalam hatinya sehingga sangat sulit mencari penyembuh dan pengobatannya, meskipun ia telah berusaha sepanjang hidupnya. Ia akan menemui Allah l dengan kebatilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu adalah sebesar-besar kebatilan dan sebesar-besar kemungkaran.” (Fathul Qadir)

Karena pentingnya pokok ini, menjauhkan diri dari ahlul bid’ah dan majelis-majelis mereka, para ulama memasukkan masalah ini dalam pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikian pula ulama ahlul hadits mencantumkan bab-bab khusus terkait pokok yang agung ini.

1. Al-Imam Abu Dawud as-Sijistani rahimahullah (wafat 275 H), membuat sebuah bab dalamSunan Abi Dawud (4/198) dengan judul “Mujanabatu Ahlil Ahwa’ wa Bughdhuhum” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu dan Membenci Mereka”).

2. Al-Imam Ibnu Baththah al-Akburi rahimahullah (wafat 387 H), dalam kitabnya al-Ibanah(2/429) mencantumkan sebuah bab berjudul “at-Tahdzir min Shuhbati Qaumin Yumridhunal Quluba wa Yufsidunal Imaan” (bab “Peringatan dan Ancaman dari Bergaul dengan Kaum yang Dapat Membuat Hati Menjadi Sakit dan Merusak Iman”).

3. Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah (wafat 458 H) dalam Kitabul I’tiqad membuat sebuah bab berjudul “an-Nahyu ‘an Mujalasati Ahlil Bida” (bab “Larangan Bermajelis dengan Ahlul Bid’ah”).

4. Al-Imam al-Baghawi rahimahullah (wafat 516 H) dalam Syarhus Sunnah (1/219) menyebutkan bab “Mujanabah Ahlil Ahwa” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu”).

5. Al-Imam Al-Mundziri rahimahullah (wafat 656 H), dalam kitabnya at-Targhib wat Tarhib (3/378) membuat bab “at-Tarhib min Hubbil Asyrar wa Ahlil Bida” (“Ancaman Mencintai Orang- Orang yang Melakukan Kejelekan dan Bid’ah”).

6. Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 676 H) dalam kitabnya, al-Adzkar, menyebutkan bab “at-Tabarri min Ahlil Bid’ah wal Ma’ashi” (bab “Berlepas Diri dari Ahlul Bida’ dan Pelaku Maksiat”). Hal yang semisal ini banyak kita jumpai dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Manusia dan Media

Ketika kita berbicara teman duduk, bukan manusia saja yang perlu diwaspadai. Termasuk media-media yang dahulu tidak terbayang akan menjadi teman dalam kesendirian. Sang anak bersendiri dengan ponsel di tangannya berselancar mengarungi samudera dunia maya. Teman duduk ini bisa menjadi bahaya laten muncul dan berkembangnya pemikiran-pemikiran sesat, paham takfir, dan semisalnya. Seandainya pemerintah atau pihak-pihak yang terkait mampu menutup situs-situs yang membahayakan akidah dan akhlak, tentu hal ini termasuk tugas dan kewajiban mereka. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaiki diri-diri kita, masyarakat kita, pemerintah kita, dan memberikan rezeki berupa teman duduk yang baik, yang membantu kita dalam hal ketaatan dan membantu kita menjauhi kejelekan.

Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajma’in

Sumber: http://asysyariah.com/hadits-memilih-teman-duduk.html

Surat An-nisa Salah Satu Bukti Memuliakan Wanita

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

index

Berbekal pengetahuan tentang Islam yang tipis, tak sedikit kalangan yang dengan lancangnya menghakimi agama ini, untuk kemudian menelorkan kesimpulan-kesimpulan tak berdasar yang menyudutkan Islam. Salah satunya, Islam dianggap merendahkan wanita atau dalam ungkapan sekarang ‘bias jender’. Benarkah?

Sudah kita maklumi keberadaan wanita dalam Islam demikian dimuliakan, terlalu banyak bukti yang menunjukkan kenyataan ini. Sampai-sampai ada satu surah dalam Al-Qur`anul Karim dinamakan surah An-Nisa`, artinya wanita-wanita, karena hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita lebih banyak disebutkan dalam surah ini daripada dalam surah yang lain. (Mahasinut Ta`wil, 3/6)

Untuk lebih jelasnya kita lihat beberapa ayat dalam surah An-Nisa` yang berbicara tentang wanita.

1. Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki.

Surah An-Nisa` dibuka dengan ayat:

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (An-Nisa`: 1)

Ayat ini merupakan bagian dari khutbatul hajah yang dijadikan oleh Rasulullah n sebagai pembuka khutbah-khutbah beliau. Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dari jiwa yang satu, Allah k menciptakan pasangannya. Qatadah dan Mujahid rahimahumallah mengatakan bahwa yang dimaksud jiwa yang satu adalah Nabi Adam q. Sedangkan pasangannya adalah Hawa. Qatadah mengatakan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. (Tafsir Ath-Thabari, 3/565, 566)

Dalam hadits shahih disebutkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)

Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Dalam hadits ini ada dalil dari ucapan fuqaha atau sebagian mereka bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah k berfirman: dan Nabi n menerangkan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk. Hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada wanita, bersikap baik terhadap mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak dan lemahnya akal mereka. Di samping juga menunjukkan dibencinya mentalak mereka tanpa sebab dan juga tidak bisa seseorang berambisi agar si wanita terus lurus. Wallahu a’lam.”(Al-Minhaj, 9/299)

2. Dijaganya hak perempuan yatim.

Allah k berfirman:

“Dan jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita lain yang kalian senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang wanita saja atau budak-budak perempuan yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk kalian tidak berlaku aniaya.” (An-Nisa`: 3)

Urwah bin Az-Zubair pernah bertanya kepada Aisyah x tentang firman Allah k: maka Aisyah menjawab, “Wahai anak saudariku1. Perempuan yatim tersebut berada dalam asuhan walinya yang turut berserikat dalam harta walinya, dan si wali ini ternyata tertarik dengan kecantikan si yatim berikut hartanya. Maka si wali ingin menikahinya tanpa berlaku adil dalam pemberian maharnya sebagaimana mahar yang diberikannya kepada wanita lain yang ingin dinikahinya. Para wali pun dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim terkecuali bila mereka mau berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim serta memberinya mahar yang sesuai dengan yang biasa diberikan kepada wanita lain. Para wali kemudian diperintah untuk menikahi wanita-wanita lain yang mereka senangi.” Urwah berkata, “Aisyah menyatakan, ‘Setelah turunnya ayat ini, orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah n tentang perkara wanita, maka Allah l menurunkan ayat:

“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita.” (An-Nisa`: 127)

Aisyah x berkata, “Dan firman Allah l dalam ayat yang lain:

“Sementara kalian ingin menikahi mereka (perempuan yatim).” (An-Nisa`: 127)

Salah seorang dari kalian (yang menjadi wali/pengasuh perempuan yatim) tidak suka menikahi perempuan yatim tersebut karena si perempuan tidak cantik dan hartanya sedikit. Maka mereka (para wali) dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim yang mereka sukai harta dan kecantikannya kecuali bila mereka mau berbuat adil (dalam masalah mahar, pent.). Karena keadaan jadi terbalik bila si yatim sedikit hartanya dan tidak cantik, walinya enggan/tidak ingin menikahinya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4574 dan Muslim no. 7444)

Masih dalam hadits Aisyah x tentang firman Allah k:

Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita. Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepada kalian tentang mereka dan apa yang dibacakan kepada kalian dalam Al-Qur`an tentang para wanita yatim yang kalian tidak memberi mereka apa yang ditetapkan untuk mereka sementara kalian ingin menikahi mereka.” (An-Nisa`: 127)

Aisyah x berkata:

أُنْزِلَتْ فِي الْيَتِيْمَةِ، تَكُوْنُ عِنْدَ الرَّجُلِ فَتَشْرِكُهُ فِي مَالِهِ، فَيَرْغَبُ عَنْهَا أَنْ يَتَزَوَّجَهَا وَيَكْرَهُ أَنْ يُزَوِّجَهَا غَيْرَهُ، فَيَشْرَكُهُ فِي ماَلِهِ، فَيَعْضِلُهَا، فَلاَ يَتَزَوَّجُهَا وَيُزَوِّجُهَا غَيْرَهُ.

“Ayat ini turun tentang perempuan yatim yang berada dalam perwalian seorang lelaki, di mana si yatim turut berserikat dalam harta walinya. Si wali ini tidak suka menikahi si yatim dan juga tidak suka menikahkannya dengan lelaki yang lain, hingga suami si yatim kelak ikut berserikat dalam hartanya. Pada akhirnya, si wali menahan si yatim untuk menikah, ia tidak mau menikahinya dan enggan pula menikahkannya dengan lelaki selainnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5131 dan Muslim no. 7447)

3. Cukup menikahi seorang wanita saja bila khawatir tidak dapat berlaku adil secara lahiriah.

Allah k berfirman:

“Kemudian jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang wanita saja atau budak-budak perempuan yang kalian miliki.” (An-Nisa`: 3)

Yang dimaksud dengan adil di sini adalah dalam perkara lahiriah seperti adil dalam pemberian nafkah, tempat tinggal, dan giliran. Adapun dalam perkara batin seperti rasa cinta dan kecenderungan hati tidaklah dituntut untuk adil, karena hal ini di luar kesanggupan seorang hamba. Dalam Al-Qur`anul Karim dinyatakan:

“Dan kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian, walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kalian terlalu cenderung kepada istri yang kalian cintai sehingga kalian biarkan yang lain telantar.” (An-Nisa`: 129)

Al-Hafizh Ibnu Katsir t mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas, “Maksudnya, kalian wahai manusia, tidak akan mampu berlaku sama di antara istri-istri kalian dari segala sisi. Karena walaupun bisa terjadi pembagian giliran malam per malam, namun mesti ada perbedaan dalam hal cinta, syahwat, dan jima’. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas c, ‘Abidah As-Salmani, Mujahid, Al-Hasan Al-Bashri, dan Adh-Dhahhak bin Muzahim rahimahumullah.”

Setelah menyebutkan sejumlah kalimat, Ibnu Katsir t melanjutkan pada tafsir ayat: maksudnya apabila kalian cenderung kepada salah seorang dari istri kalian, janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cenderung secara total padanya, ﭿ  ﮀ “sehingga kalian biarkan yang lain telantar.” Maksudnya istri yang lain menjadi terkatung-katung. Kata Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Al-Hasan, Adh Dhahhak, Ar-Rabi` bin Anas, As-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan, “Makna seperti tidak punya suami dan tidak pula ditalak.” (Tafsir Al-Qur`anil Azhim, 2/317)

Bila seorang lelaki khawatir tidak dapat berlaku adil dalam berpoligami, maka dituntunkan kepadanya untuk hanya menikahi satu wanita. Dan ini termasuk pemuliaan pada wanita di mana pemenuhan haknya dan keadilan suami terhadapnya diperhatikan oleh Islam.

4. Hak memperoleh mahar dalam pernikahan.

Allah k berfirman:

“Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati maka makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai makanan yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa`: 4)

5. Wanita diberikan bagian dari harta warisan.

Allah k berfirman:

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa`: 7)

Sementara di zaman jahiliah, yang mendapatkan warisan hanya lelaki, sementara wanita tidak mendapatkan bagian. Malah wanita teranggap bagian dari barang yang diwarisi, sebagaimana dalam ayat:

“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi wanita dengan jalan paksa.” (An-Nisa`: 19)

Ibnu ‘Abbas c menyebutkan, “Dulunya bila seorang lelaki di kalangan mereka meninggal, maka para ahli warisnya berhak mewarisi istrinya. Jika sebagian ahli waris itu mau, ia nikahi wanita tersebut dan kalau mereka mau, mereka nikahkan dengan lelaki lain. Kalau mau juga, mereka tidak menikahkannya dengan siapa pun dan mereka lebih berhak terhadap si wanita daripada keluarga wanita itu sendiri. Maka turunlah ayat ini dalam permasalahan tersebut.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4579)

Maksud dari ayat ini, kata Al-Imam Al-Qurthubi t, adalah untuk menghilangkan apa yang dulunya biasa dilakukan orang-orang jahiliah dari mereka dan agar wanita tidak dijadikan seperti harta yang diwariskan sebagaimana diwarisinya harta benda. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/63)

Bila ada yang mempermasalahkan, kenapa wanita hanya mendapatkan separuh dari bagian laki-laki seperti tersebut dalam ayat:

“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang pembagian warisan untuk anak-anak kalian, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan….” (An-Nisa`: 11)

Maka dijawab, inilah keadilan yang sesungguhnya. Laki-laki mendapatkan bagian yang lebih besar daripada wanita karena laki-laki butuh bekal yang lebih guna memberikan nafkah kepada orang yang di bawah tanggungannya. Laki-laki banyak mendapatkan beban. Ia yang memberikan mahar dalam pernikahan dan ia yang harus mencari penghidupan/penghasilan, sehingga pantas sekali bila ia mendapatkan dua kali lipat daripada bagian wanita. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/160)

6. Suami diperintah untuk berlaku baik pada istrinya.

Allah k berfirman:

“Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19)

Al-Hafizh Ibnu Katsir t ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama. Allah k berfirman dalam hal ini:

“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)

Rasulullah n sendiri telah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)ku.”2 (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/173)

7. Suami tidak boleh membenci istrinya dan tetap harus berlaku baik terhadap istrinya walaupun dalam keadaan tidak menyukainya.

Allah k berfirman:

“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa`: 19)

Dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (5/65), Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Firman Allah l: ﯥ  ﯦ (“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka”), dikarenakan parasnya yang buruk atau perangainya yang jelek, bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz, maka disenangi (dianjurkan) (bagi si suami) untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut. Mudah-mudahan hal itu mendatangkan rizki berupa anak-anak yang shalih yang diperoleh dari istri tersebut.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat. Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbas c tentang ayat ini: ‘Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah l berikan rizki kepadanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)

Dalam hadits Abu Hurairah z disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya. Karena bila ia menemukan pada istrinya satu perangai yang tidak ia sukai, namun di sisi lain ia bisa dapatkan perangai yang disenanginya pada si istri. Misalnya istrinya tidak baik perilakunya, tetapi ia seorang yang beragama, atau berparas cantik, atau menjaga kehormatan diri, atau bersikap lemah lembut dan halus padanya, atau yang semisalnya.” (Al-Minhaj, 10/58)

8. Bila seorang suami bercerai dengan istrinya, ia tidak boleh meminta kembali mahar yang pernah diberikannya.

Allah k berfirman:

“Dan jika kalian ingin mengganti istri kalian dengan istri yang lain sedang kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali sedikitpun dari harta tersebut. Apakah kalian akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (An-Nisa`: 20-21)

9. Termasuk pemuliaan terhadap wanita adalah diharamkan bagi mahram si wanita karena nasab ataupun karena penyusuan untuk menikahinya.

Allah k berfirman:

“Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian, putri-putri kalian, saudara-saudara perempuan kalian, ‘ammah kalian (bibi/ saudara perempuan ayah), khalah kalian (bibi/ saudara perempuan ibu), putri-putri dari saudara laki-laki kalian (keponakan perempuan), putri-putri dari saudara perempuan kalian, ibu-ibu susu kalian, saudara-saudara perempuan kalian sepersusuan, ibu mertua kalian, putri-putri dari istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri. Tetapi jika kalian belum mencampuri istri tersebut (dan sudah berpisah dengan kalian) maka tidak berdosa kalian menikahi putrinya. Diharamkan pula bagi kalian menikahi istri-istri anak kandung kalian (menantu)…” (An-Nisa`: 23)

Diharamkannya wanita-wanita yang disebutkan dalam ayat di atas untuk dinikahi oleh lelaki yang merupakan mahramnya, tentu memiliki hikmah yang agung, tujuan yang tinggi yang sesuai dengan fithrah insaniah. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 16)

Di akhir ayat di atas, Allah k berfirman:

“(Diharamkan atas kalian) menghimpunkan dalam pernikahan dua wanita yang bersaudara, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa`: 23)

Ayat di atas menetapkan bahwa seorang lelaki tidak boleh mengumpulkan dua wanita yang bersaudara dalam ikatan pernikahan karena hal ini jelas akan mengakibatkan permusuhan dan pecahnya hubungan di antara keduanya. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Muhammad Jamil Zainu, hal. 16)

Demikian beberapa ayat dalam surah An-Nisa` yang menyinggung tentang wanita. Apa yang kami sebutkan di atas bukanlah membatasi, namun karena tidak cukupnya ruang, sementara hanya demikian yang dapat kami persembahkan untuk pembaca yang mulia. Allah l-lah yang memberi taufik.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Karena ibu ‘Urwah, Asma` bintu Abi Bakr c adalah saudara perempuan Aisyah.

2 HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t.

Suami Taat Beribadah, Tidak Memperhatikan Isteri

Pertanyaan :

Saya membaca majalah Asy-Syariah dalam rubrik “Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah” tentang istri yang rajin beribadah, namun enggan taat kepada suami. Yang saya ingin tanyakan, bagaimana jika suami yang taat ibadah namun tak peduli dengan istri, tiap malam istri tidur sendirian. Bagaimana jika istri juga tidak ridha, diterimakah amal ibadah suami, sedangkan istri tersakiti batinnya? Bukankah berumah tangga itu termasuk ibadah?

putus Cinta

Jawab :

(Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi)

Soal suami yang taat ibadah namun kurang perhatian terhadap istri; tentang ibadahnya, apabila memang terpenuhi syarat, rukun, dan kewajibannya, maka tetap diterima. Namun, sikapnya yang

tidak memerhatikan istri juga tidak dibenarkan. Coba perhatikan riwayat berikut ini.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ayahku menikahkan aku dengan seorang wanita yang bernasab mulia, maka ayah senantiasa mengontrol menantunya. Ayah menanyakan tentang suaminya (yakni anaknya, -red). Menantunya pun menjawab, “Dia sebaik-baik pria, tidak pernah meniduri kasur kami, dan tidak pernah membuka-buka tutup sejak kami datang.” Maka setelah hal itu berlangsung lama pada dirinya, ayah melaporkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau berkata, “Pertemukan aku dengannya.” Setelah itu aku bertemu dengan beliau. Beliau bertanya kepadaku, “Bagaimana kamu berpuasa?” “Setiap hari,” jawabku. “Bagaimana kamu mengkhatamkan al-Qur’an?” tanya beliau. “Tiap malam,” jawabku. “Kalau begitu puasalah tiap bulan tiga hari dan khatamkan al-Qur’an tiap bulan.” Aku menjawab,“Aku mampu lebih banyak dari itu.” “Puasalah tiga hari setiap sepekan,” perintah beliau.“Aku mampu lebih banyak dari itu,” jawabku. “Berbukalah dua hari dan berpuasalah satu hari,” jawabku. “Puasalah dengan puasa yang paling utama, puasa Dawud, puasa satu hari dan tidak puasa satu hari, dan khatamkanlah al-Qur’an tiap tujuh malam satu kali.”

Dalam riwayat yang lain beliau berkata,

أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ وَلاَ تُفْطِرُ، وَتُصَلِّى وَلاَ تَنَامُ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَظًّا، وَإِنَّ لِنَفْسِكَ وَأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَظًّا

“Tidakkah disampaikan berita kepadaku bahwa kamu puasa terus dan tidak pernah tidak puasa, shalat malam terus dan tidak pernah tidur? Maka (sekarang) puasalah kamu dan juga tidak puasa (dihari lain,-pen), shalat malamlah dan juga tidurlah. Sesungguhnya matamu punya hak atas dirimu, tubuhmu dan keluargamu juga punya hak atas dirimu.”

Dalam kejadian yang lain diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhuma. Suatu saat, Salman mengunjungi Abu Darda’. Maka Salman melihat Ummu Darda’ berpakaian lusuh. Salman pun mengatakan kepadanya, “Mengapa kamu demikian?” Ia menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ tiada hasrat kepada dunia.” Maka Abu Darda’ datang lalu membuatkan makanan untuk Salman. Salman mengatakan kepada Abu Darda’, “Makanlah!” “Aku berpuasa,” jawabnya. Salman menukas, ”Aku tidak akan makan sampai engkau mau makan.” Akhirnya dia makan. Maka ketika malam harinya, Abu Darda bangun, Salman mengatakan kepadanya, “Tidurlah!” Maka Abu Darda’ tidur lagi, lalu bangun lagi, maka Salman mengatakan lagi kepadanya, “Tidurlah.” Maka ketika pada akhir malam Salman mengatakan, “Bangunlah sekarang”, lalu keduanya melakukan shalat. Selanjutnya Salman mengatakan kepadanya,

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ. فَأَتَى النَّبِىَّ صل الله عليه وسلم فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِىُّ صل الله عليه وسلم :صَدَقَ سَلْمَانُ

“Sesungguhnya Rabbmu punya hak atas dirimu, dirimu sendiri punya hak atas dirimu, dan keluargamu punya hak atas dirimu, maka berikan hak kepada tiap-tiap yang memilikinya.” Lantas Abu Darda datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan hal itu kepadanya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,“Salman benar.” (Sahih, HR. al-Bukhari)

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Dalam riwayat Daraquthni ada tambahan,

فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَصَلِّ وَنَمْ وَائْتِ أَهْلَكَ

“Puasalah dan juga jangan puasa (dihari lain, –pen.), shalatlah dan juga tidurlah, serta gauli istrimu’.”

Lalu Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa dalam kisah tersebut ada pelajaran:

  • Disyariatkannya seorang wanita berhias untuk suaminya.
  • Ada hak wanita atas suaminya yaitu kebaikan dalam hal bergaul.
  • Bisa diambil pula dari kisah tersebut, adanya hak bagi istri untuk digauli. Sebab, Salmanradhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Keluargamu juga punya hak atas dirimu.” Lalu Salman mengatakan, “gauli istrimu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menyetujui penegasan Salman tersebut.

Dari kisah di atas berikut sejumlah faedah yang dipetik, menunjukkan bahwa seorang suami punya kewajiban untuk menunaikan hak istrinya dalam hal “mencampurinya”. Tidak dibenarkan ia menyepelekan hak tersebut walaupun dengan alasan sibuk dengan ibadah, apalagi dengan alasan yang lain.

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpandangan, wajib atas suami untuk menggauli istrinya seukuran kebutuhannya dan selama hal itu tidak memayahkan fisik suami, serta tidak menyibukkannya dari mencari rezeki.

Beliau ditanya tentang seorang suami yang tahan untuk tidak menggauli istrinya satu atau dua bulan, apakah ia berdosa atau tidak? Apakah seorang suami dituntut untuk melakukannya?

Jawab beliau, “Wajib atas seorang suami untuk menggauli istrinya dengan baik, dan itu termasuk hak istri yang paling ditekankan atas suami, melebihi hak makannya. Dan menggauli itu wajib. Ada pendapat yang mengatakan wajibnya adalah di tiap empat bulan satu kali. Pendapat lain, ‘Sesuai dengan kebutuhan istrinya dan sesuai dengan kemampuan suami’ dan ini yang lebih sahih dari dua pendapat ini.” (Majmu’ Fatawa, 32/271)

Beliau juga mengatakan, “… Maka wajib atas masing-masing suami dan istri untuk menunaikan haknya kepada pihak lain dengan penuh kerelaan dan lapang dada. Karena sesungguhnya istri punya hak atas suami dalam hartanya yaitu mahar dan nafkah yang baik, serta hak pada tubuhnya yaitu percampuran dan kenikmatan, yang kalau suami bersumpah untuk tidak menggaulinya, (istri) berhak untuk pisah dengan kesepakatan muslimin. Demikian pula bila suami terputus “alatnya” atau impoten, dan tidak mungkin menggaulinya, maka wanita boleh meminta pisah. Dan menggaulinya itu wajib menurut mayoritas para ulama.

Ada juga pendapat lain, itu tidak wajib, cukup hal itu sesuai dorongan nafsu manusiawinya saja. Yang benar, menggauli adalah wajib sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur’an, as-Sunnah, dan pokok-pokok agama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengatakan kepada Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma –ketika beliau memperbanyak puasa dan shalat-, “Sesungguhnya istrimu punya hak atas dirimu.”

Kemudian ada yang berpendapat, “Yang wajib atasnya untuk menggaulinya adalah satu kali dalam empat bulan.”

Pendapat lain mengatakan, “Wajib menggaulinya dengan cara yang baik sesuai dengan kekuatan suami dan kebutuhan istri, sebagaimana wajibnya menafkahi dengan cara yang baik juga demikian.”

Pendapat ini yang lebih benar. Suami boleh menikmatinya kapan suami mau selama tidak mencelakakannya dan tidak menyibukkannya dari yang wajib, maka wajib bagi wanita untuk mempersilakannya juga…. (Majmu’ Fatawa, 28/383—384)

Ada juga beberapa pendapat yang lain, tapi itu lemah.

Yang perlu diingat bahwa suatu perbuatan yang wajib, bila kita mengamalkan sebagai ketundukan kita kepada kewajiban tersebut, hal itu adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan tentu mendapatkan pahala. Sebaliknyabila kita meninggalkannya kita akan mendapatkan dosa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

…وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ الله؛ أَيَأْتِي أَحَدُنا شَهوَتَهُ، وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟! قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ؛ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إذَا وَضَعهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“..Dan pada ‘percampuran’ seseorang dari kalian ada sedekahnya.” Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang dari kita yang mendatangi syahwatnya lalu dia dapat pahala karenanya?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,“Bagaimana menurut kalian, bila ia meletakkannya pada tempat yang haram, bukankah ia akan mendapatkan dosa? Maka demikian pula bila ia meletakkannya pada yang halal maka ia akan mendapatkan pahala.” (Sahih, HR. Muslim)

Semoga kita semua menjadi suami yang bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sebelum di hadapan manusia. Allah Subhanahu wata’ala sajalah yang memberi taufik.